Nutrilon 3 : Life is an advanture (part II)
I wanna make clouds
I want to jump over fence
play with shadows
paint faces, get wet, eat wind
chase rainbows
and collect stars
Life is An Adventure
Photo reblogged from Fuck Yeah the Medic with 35 notes
BLU MEDICby ~selene-nightmare69
Source: ilovethisdoctor
Don’t give up. There are too many nay-sayers out there who will try to discourage you. Don’t listen to them. The only one who can make you give up is yourself.
Quote reblogged from Quote Book: with 1,307 notes
You see things; and you say “Why?”
But I dream things that never were; and I say “Why not?
George Bernard Shaw (via quote-book)
there’s no impossible thing as long as we still believe and have a trust on it.
there’re many way outs to solve things even such harsh problems
and thank to you for always reminding me
Source: quote-book
A doctor must work eighteen hours a day and seven days a week. If you cannot console yourself to this, get out of the profession.
MAROON5 - NEVER GONNA LEAVE THIS BED.
You push me. I don’t have the strength to Resist or control you
Take me down, take me down
You hurt me. But do I deserve this?
You make me so nervous
Calm me down, calm me down
Wake you up
In the middle of the night to say
I will never walk away again
I’m never gonna leave this bed
So come here And never leave this place
Perfection of your face
Slows me down, slows me down
So fall down
I need you to trust me. Go easy, don’t rush me
Help me out, why don’t you help me out?
So you say “Go, it isn’t working”
And I say “No, it isn’t perfect”
So I stay instead
I’m never gonna leave this bed
Take it, take it all
Take all that I have
I’d give it all away just to get you back
And fake it, fake it all
Take what I can get
Knockin’ so loud. Can you hear me yet
Try to stay awake but you can’t forget
Wake you up
In the middle of the night to say
I will never walk away again
I’m never gonna leave this bed
So I stay instead
I’m never gonna leave this bed
COLDPLAY - FIX YOU.
when you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can’t sleep
Stuck in reverse
And the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
And high up above or down below
When you’re too in love to let it go
But if you never try you’ll never know
Just what you’re worth
Tears stream down on your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down on your face
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang
dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil
tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah
pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan
pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat
kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki
adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia
berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang
pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi
Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak
hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.
”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa
cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru
tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang
Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah
memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang
utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai
beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili
saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud
Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua,
shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini
bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak
jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi
isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan
segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata
sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang
datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami
menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki
urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah.
Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu
mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu
alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan
persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu
yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang
belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia
bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan
ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi
pernikahan kalian!”
Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki
apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran
tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih,
merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa
dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah,
dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang
yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang
kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik
nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba
adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus
mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami.
hati ini juga milik Allah, kalau hati-nya memang bukan untuk kita maka doakan semoga Dia menyimpannya dengan baik dan diberikan kembali utk org yg lebih baik
pada akhirnya, ini semua hanya permainan kata-kata dan perasaan.tapi, saya tidak melanjutkan permainan ini.
jadi,lebih baik saya berhenti disini
- Myself
Duran duran - Ordinary world.
(don’t drop the tears for yesterday. cause someday you’re gonna find more better days)
Page 1 of 10